Harga saham perbankan besar Indonesia, seperti BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI mengalami penurunan. Masing-masing turun 1,99%, 1,24%, 0,4%, dan 1,41% pada pukul 09.28 WIB. Dalam sepekan terakhir, BBRI turun 5,54%, BBCA 3,86%, BMRI 6,32%, dan BBNI 6,92%. Penyebab penurunan saham Big Bank adalah akibat sentimen negatif dari kemenangan Donald Trump sebagai Presiden AS ke-47 serta kekhawatiran terhadap kebijakan kontroversialnya. Pengumuman stimulus besar-besaran dari China yang sebelumnya diharapkan mampu memacu pasar ternyata direspons dingin oleh investor. Meskipun The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25%, aksi jual asing masih mendominasi.
Baca Juga : Donald Trump dan Kenaikan Harga Bitcoin: Peluang Investasi di Tengah Tren Global

Peluang Investasi di Tengah Sentimen Pasar Global
Namun, riset Ciptadana Sekuritas memprediksi pemulihan pasar akan lebih cepat dibandingkan 2016, dengan target IHSG mencapai 8.400 pada 2025. Pemangkasan suku bunga oleh The Fed diprediksi dapat mempercepat pemulihan pasar saat ini. Ciptadana memproyeksikan penurunan suku bunga AS sebesar 25 basis poin lagi pada Desember, yang berpotensi mendorong kenaikan IHSG. Saham BBRI tetap menjadi pilihan utama Ciptadana, mengingat prospeknya yang menjanjikan untuk pasar 2025. Saham BBRI direkomendasikan untuk akumulasi, didukung oleh prospek perbaikan margin bunga bersih (NIM) dan menurunnya suku bunga pinjaman.
BBTN dianggap memiliki prospek cerah karena diperkirakan akan mendapat manfaat dari pertumbuhan pasar properti. Sementara itu, Ciptadana merekomendasikan pembelian saham BBRI, BBCA, BMRI, BBNI, dan BBTN dengan target harga masing-masing Rp6.200, Rp11.600, Rp8.250, Rp6.700, dan Rp1.825. Dibandingkan dengan harga penutupan akhir September, terdapat potensi kenaikan sebesar 28%, 9%, 17%, 19%, dan 31%.
Waktu Terbaik Investasi Saham Bank
Berdasarkan proyeksi dividen nominal tahun 2024 dan harga saham per 8 November, potensi dividend yield big banks di tahun 2025 dapat meningkat karena penurunan harga saham saat ini. Dengan demikian, koreksi pasar saat ini bisa menjadi peluang yang ideal untuk meningkatkan investasi di saham big banks demi meraih potensi imbal hasil dividen yang lebih tinggi pada 2025. Hal ini menjadikannya peluang bagi investor jangka panjang.
Tim Analis Bareksa merekomendasikan trader untuk menentukan harga beli dengan mengacu pada level support terdekat (support 1). Jika harga mendekati level ini, dapat dipertimbangkan untuk mulai membeli. Sementara itu, target harga jual dapat ditetapkan berdasarkan level resistance terdekat (R1) sebagai acuan untuk melakukan profit taking.
Penutup
Saat pasar saham (IHSG) melemah seperti sekarang, terdapat peluang untuk berinvestasi baik jangka pendek (trading) maupun jangka panjang, dengan tetap menyesuaikan profil risiko masing-masing investor.

Leave a Reply